Evaluasi Capaian dan Strategi Percepatan Penurunan Stunting 2025–2026, Dinkes Sulteng Perkuat Intervensi Terintegrasi

Palu — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah menggelar rapat evaluasi capaian indikator spesifik percepatan penurunan stunting tahun 2025 sekaligus menyusun rencana pelaksanaan tahun 2026, bertempat di ruang Kepala Dinas Kesehatan, Senin, 6 April 2026.

Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dr. Syahriar, M.Kes, dan dihadiri oleh jajaran pejabat struktural serta tim teknis terkait.

Dalam arahannya, Kepala Dinas menegaskan bahwa upaya percepatan penurunan stunting tidak hanya berfokus pada aspek layanan kesehatan semata, tetapi membutuhkan penguatan intervensi yang komprehensif, terintegrasi, dan berbasis data.

“Penanganan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Tidak cukup hanya intervensi gizi, tetapi juga harus menyentuh aspek perilaku, lingkungan, serta siklus hidup masyarakat,” tegasnya.

Capaian dan Tantangan Penurunan Stunting

Berdasarkan data yang dipaparkan, prevalensi stunting secara nasional menunjukkan tren penurunan menjadi 19,8 persen pada tahun 2024.
Namun demikian, di tingkat daerah masih terdapat berbagai tantangan, terutama pada:

  • Partisipasi sasaran dalam deteksi dini masalah gizi
  • Cakupan intervensi spesifik pada ibu hamil dan balita
  • Konsumsi suplemen yang belum optimal meskipun distribusi berjalan baik

Selain itu, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam penguatan intervensi, bahkan pada beberapa program penguatan masih belum teralokasi secara optimal.

Penguatan Strategi Intervensi Tahun 2026

Dalam rapat tersebut, disepakati sejumlah langkah strategis untuk tahun 2026, di antaranya:

  • Pemenuhan mikro dan makronutrien bagi kelompok sasaran
  • Pengadaan alat antropometri untuk meningkatkan kualitas skrining tumbuh kembang
  • Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui pelatihan pengukuran
  • Penguatan sistem data terintegrasi melalui dashboard monitoring
  • Kolaborasi lintas sektor dalam perencanaan dan pelaksanaan program

Pendekatan intervensi juga akan diperkuat melalui konsep continuum of care, yaitu intervensi berkelanjutan sejak remaja, ibu hamil, hingga balita.

Faktor Perilaku dan Lingkungan Jadi Perhatian

Kepala Dinas juga menyoroti bahwa stunting tidak hanya terjadi pada keluarga dengan kondisi ekonomi rendah, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh pola asuh dan perilaku kesehatan masyarakat.

Oleh karena itu, edukasi dan perubahan perilaku menjadi bagian penting dalam strategi percepatan penurunan stunting.

“Masalah stunting tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan. Perilaku dan pola asuh sangat menentukan, sehingga edukasi harus diperkuat,” jelasnya.

Selain itu, aspek sanitasi, pencegahan infeksi berulang, serta penanganan kecacingan juga menjadi fokus dalam intervensi sensitif.

Dorong Kolaborasi dan Inovasi Daerah

Rapat juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dan inovasi daerah, dengan mencontohkan keberhasilan penurunan stunting di Kabupaten Donggala melalui pendekatan kolaboratif bersama akademisi dan pihak ketiga.

Ke depan, Dinas Kesehatan akan mendorong:

  • Penguatan koordinasi antar perangkat daerah
  • Pemanfaatan data kemiskinan untuk penentuan sasaran
  • Pemberian reward bagi kader berprestasi
  • Inovasi program berbasis kebutuhan lokal

Komitmen Berkelanjutan

Rapat ini menjadi bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mendukung target nasional percepatan penurunan stunting melalui penguatan layanan kesehatan primer dan intervensi berbasis masyarakat.

Dengan perencanaan yang lebih terarah, berbasis data, serta dukungan lintas sektor, diharapkan upaya percepatan penurunan stunting di Sulawesi Tengah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Humas Dinkes Sulteng