1. Situasi Terkini Kasus DBD
Kementerian Kesehatan RI mencatat secara nasional pada tahun 2024 terdapat 257.271 kasus DBD dengan 1.461 kematian. Sementara pada tahun 2025, hingga 23 Juni, telah dilaporkan 78.646 kasus dengan 346 kematian. Data ini menegaskan bahwa demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius yang perlu diwaspadai di seluruh Indonesia, termasuk di Sulawesi Tengah.
Di Provinsi Sulawesi Tengah, kasus DBD mengalami peningkatan signifikan sejak awal tahun 2024. Sepanjang tahun tersebut tercatat 2.458 kasus dengan 10 kematian. Kota Palu (441 kasus), Kabupaten Morowali Utara (428 kasus), Morowali (394 kasus), dan Poso (284 kasus) menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi.
Memasuki tahun 2025 hingga Juli, tercatat 780 kasus DBD dengan 5 kematian. Kota Palu kembali menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak (214 kasus), disusul Morowali Utara (148 kasus) dan Morowali (133 kasus).
2. Bagaimana Penularan DBD ?
Penularan virus dengue terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang menggigit orang sakit DBD dapat membawa virus, lalu menularkannya kepada orang sehat saat menggigit kembali.
Penyakit DBD dapat berakibat fatal bila tidak ditangani dengan cepat. DBD memiliki tiga fase penting yang perlu dipahami masyarakat:
- Fase Demam (hari 1–3): ditandai demam tinggi, nyeri otot, atau bintik merah pada kulit.
- Fase Kritis (hari 4–5): demam biasanya menurun, tetapi terjadi kebocoran plasma darah yang dapat menyebabkan syok. Fase ini paling berbahaya sehingga pasien harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
- Fase Penyembuhan (hari 6–7): demam dapat kembali naik sebagai respon pemulihan, kadar trombosit perlahan membaik.
3. Mengapa Harus Waspada pada Musim Hujan?
Musim hujan menciptakan banyak genangan air pada wadah bekas, botol plastik, ban bekas, maupun tempat penampungan air yang terbuka. Kondisi ini menjadi habitat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk bertelur.
Telur nyamuk yang sebelumnya bertahan di tempat kering akan menetas begitu terisi air hujan. Dalam waktu singkat, jentik berkembang menjadi pupa, lalu nyamuk dewasa. Lonjakan populasi nyamuk inilah yang meningkatkan risiko penularan DBD.
4. Rekomendasi Pencegahan melalui Gerakan 3M Plus
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah bersama Dinas Kesehatan kabupaten/kota terus menggalakkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui Gerakan 3M Plus, yaitu:
- Menguras dan menyikat tempat penampungan air secara rutin.
- Menutup rapat-rapat tempat penampungan air.
- Mendaur ulang/memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Ditambah dengan upaya Plus, antara lain:
- Menggunakan obat anti nyamuk, kelambu, atau larvasida.
- Memelihara ikan pemakan jentik.
- Mengenakan pakaian panjang untuk menghindari gigitan.
- Menanam tanaman pengusir nyamuk (lavender, sereh, kemangi, mint, dll).
- Tidak menggantung pakaian di luar lemari.
- Menjaga rumah tetap terang dan tidak lembab.
5. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengendalian DBD
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah bersama Dinkes kabupaten/kota dan Puskesmas terus menggencarkan program pengendalian DBD dengan melibatkan masyarakat. Salah satu inovasi adalah Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik, yang diperluas ke sekolah melalui Gerakan Anak Sekolah Lawan DBD.
Dalam program ini, siswa sekolah dasar dilibatkan sebagai Jumantik Cilik. Mereka berperan aktif memantau kebersihan lingkungan sekolah sekaligus menjadi penggerak pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di rumah dan lingkungan sekitarnya.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan pengendalian DBD dapat berjalan efektif. Pencegahan tidak hanya bergantung pada fogging, tetapi terutama pada kesadaran masyarakat dalam melakukan PSN secara rutin dan berkelanjutan.
“WASPADA!!! HUJAN DATANG, NYAMUK BERKEMBANG – MARI CEGAH DBD”
“Musim hujan bukan hanya membawa berkah, tetapi juga meningkatkan risiko penularan DBD. Mari bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan melalui Gerakan 3M Plus. Ingat, satu jentik bisa menjadi seribu nyamuk, tetapi satu aksi kecil Anda hari ini bisa menyelamatkan banyak nyawa. Bersama kita cegah DBD!”
Penulis : Sumiati, SKM., M. Kes
Editor : Muhadi, SKM
Penyunting Online, Aplouder : Hamdi, SKM., M Kes