PALU – Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) merupakan salah satu tahapan penting dalam pembinaan dokter yang baru menyelesaikan pendidikan profesi. Melalui program ini, para dokter memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di bawah bimbingan dokter pendamping, sekaligus memperkuat kompetensi profesional, komunikasi, dan pengambilan keputusan klinis sebelum menjalankan praktik secara mandiri.
Di Provinsi Sulawesi Tengah, sebanyak 12 dokter peserta Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Angkatan II Periode Mei 2025 telah menuntaskan masa penugasannya setelah menjalani internsip selama satu tahun di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan hasil rapat evaluasi akhir komprehensif yang dilaksanakan secara daring pada 29 April 2026, seluruh peserta dinyatakan memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan dan berhak memperoleh Surat Pernyataan Selesai Internsip (SPSI).
Keberhasilan tersebut menjadi gambaran bahwa proses pembinaan dan pendampingan selama pelaksanaan program berjalan dengan baik. Namun, di balik capaian tersebut tersimpan berbagai pengalaman berharga yang menunjukkan bagaimana para dokter muda belajar menghadapi tantangan pelayanan kesehatan secara langsung, khususnya di wilayah yang masih memiliki keterbatasan sumber daya.
Belajar Melayani di Tengah Beragam Tantangan
Sebanyak tujuh dokter menjalani penugasan di RSUD Mokoyurli Buol dan Puskesmas Lakea, Kabupaten Buol. Sementara itu, lima dokter lainnya bertugas di RSUD Banggai dan Puskesmas Banggai, Kabupaten Banggai Laut yang termasuk wilayah Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK).
Selama menjalankan tugas, para dokter tidak hanya dituntut memberikan pelayanan medis, tetapi juga beradaptasi dengan kondisi lapangan yang beragam. Di Kabupaten Buol, jumlah dokter internsip yang lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya menyebabkan beban pelayanan, khususnya jadwal jaga di rumah sakit, menjadi lebih tinggi. Kondisi tersebut menjadi pengalaman tersendiri dalam membangun kemampuan bekerja secara kolaboratif, mengelola waktu, serta mengambil keputusan klinis secara tepat.
Selain itu, peserta juga menghadapi sejumlah tantangan terkait ketersediaan sarana dan prasarana. Beberapa kali ditemukan keterbatasan stok obat tertentu yang memerlukan penyesuaian dalam pelayanan kepada pasien. Di sisi lain, fasilitas pendukung seperti rumah dinas maupun kendaraan operasional bagi dokter internsip juga belum tersedia sehingga menuntut peserta untuk lebih mandiri selama menjalankan penugasan.
Aspek sosial budaya masyarakat turut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Edukasi kesehatan masih menjadi tantangan karena sebagian masyarakat masih memilih pengobatan tradisional sebelum memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan. Tidak jarang pula proses rujukan pasien ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi memerlukan pendekatan komunikasi yang intensif kepada keluarga pasien agar keputusan medis dapat dipahami dan diterima dengan baik.
Evaluasi pelaksanaan program juga mencatat pentingnya peningkatan koordinasi antara fasilitas pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan, dan para dokter internsip, khususnya dalam pelaksanaan kegiatan di luar pelayanan rutin. Sinergi yang semakin baik diharapkan mampu mendukung efektivitas pelaksanaan program di masa mendatang.
Pengalaman Berharga di Wilayah DTPK
Bagi peserta yang ditempatkan di Kabupaten Banggai Laut, tantangan yang dihadapi lebih banyak berkaitan dengan kondisi geografis dan infrastruktur. Sebagai wilayah kepulauan, stabilitas jaringan internet belum sepenuhnya optimal sehingga beberapa kali memengaruhi proses pengisian serta validasi data pada Sistem Informasi Manajemen Program Internsip Dokter Indonesia (SIMPIDI).
Selain itu, pemadaman listrik secara bergilir juga menjadi tantangan yang harus dihadapi dalam mendukung kelancaran pelayanan maupun administrasi program. Meskipun demikian, seluruh peserta tetap mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik melalui penyesuaian terhadap kondisi yang ada serta dukungan dari para pembimbing di wahana internsip.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa pelayanan kesehatan di wilayah DTPK tidak hanya membutuhkan kompetensi klinis, tetapi juga kemampuan beradaptasi, bekerja sama, serta memahami karakteristik masyarakat dan lingkungan tempat bertugas.
Pendampingan Menjadi Kunci Keberhasilan
Keberhasilan penyelenggaraan Program Internsip tidak terlepas dari peran aktif para dokter pendamping dan pembimbing di setiap wahana. Di Kabupaten Buol, proses monitoring dan evaluasi dilakukan secara berkelanjutan oleh dr. I Wayan Eko dan dr. Andrilius bersama dokter-dokter definitif di fasilitas pelayanan kesehatan.
Pendampingan dilaksanakan melalui supervisi pelayanan sehari-hari, pembahasan kasus dalam morning report, evaluasi pada setiap pergantian stase, serta diskusi berkala mengenai perkembangan kompetensi peserta.
Sementara itu, di Kabupaten Banggai Laut, pembinaan dilakukan oleh dr. Jerry H.R. Manuas bersama dokter pembimbing di Puskesmas. Pertemuan lintas wahana juga secara rutin dimanfaatkan sebagai forum evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai kendala sekaligus merumuskan solusi yang dapat diterapkan selama pelaksanaan program.
Sistem pembinaan yang berkesinambungan tersebut menjadi faktor penting dalam memastikan setiap peserta memperoleh pengalaman belajar yang optimal sekaligus mampu memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar profesi.
Menjadi Bahan Evaluasi untuk Penguatan Layanan Kesehatan
Program Internsip bukan sekadar tahap akhir pendidikan profesi dokter, tetapi juga menjadi sarana evaluasi terhadap kesiapan sistem pelayanan kesehatan di daerah. Berbagai pengalaman yang diperoleh selama pelaksanaan program memberikan masukan berharga bagi pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, serta seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat penyelenggaraan pelayanan kesehatan.
Peningkatan koordinasi antarinstansi, penguatan sistem pembinaan, penyediaan sarana dan prasarana pendukung, serta pemerataan tenaga kesehatan di wilayah DTPK menjadi beberapa aspek yang perlu terus dikembangkan. Upaya tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang semakin baik bagi dokter internsip sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
Tuntasnya Program Internsip Dokter Indonesia Angkatan II Periode Mei 2025 di Sulawesi Tengah menjadi bukti bahwa semangat pengabdian, pendampingan yang berkelanjutan, serta kolaborasi berbagai pihak mampu melahirkan dokter-dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi klinis, tetapi juga ketangguhan dalam menghadapi dinamika pelayanan kesehatan di lapangan. Pengalaman yang diperoleh selama satu tahun penugasan tersebut diharapkan menjadi bekal berharga bagi para dokter dalam mengabdikan diri kepada masyarakat di mana pun mereka bertugas.
Sumber Berita : Tim Media Farmalkes dan SDMK






